setidaknya, kemampuan kita menghakimi orang, dengan cara apapun sedang kita lakukan.
setidaknya kenaasan kita dihakimi orang dengan cara apapun berulang mereka lakukan sepertinya sudah bukan kapasitas yang volumenya bisa diatur, ketika kita bicara soal kegagalan mengolah toleransi dan kemarahan tentang arogansi
ketika sudah tak ada jalan menuju roma, maka akan kubuat jalan menuju berlin saja
karena tujuan buata saya bukan tempat, tapi proses dan pencapaian, seperti apapun itu
saya pikir, ada baiknya duduk bersila menyembah batu atau pohon besar, ketika kita berhadapan dengan otak otak tak lengkap selaput serta komponen selnya
kita masih belajar bagaiman menyuapkan nasi kedalam mulut secara benar
kita masih belajar berdiri didepan cermin tanpa merasa ini belum cukup
kita masih berkeinginan belajar meredam aktifitas bunuh diri yang kita sadari
berhentilah bicara kecacatan orang lain dan masa depan dunia, ketika didalam mulut kita masih mengulum sampah yang busuk bila kita banyak bicara
kau punya batu dikepalamu, aku punya palu ditanganku!!
mau kau mengadu??
datanglah kapan saja kau mau.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar